menu
  • Inspirasi Millenial
  • Viral
  • Galeri
  • Video
  • LAINNYA

# Bitcoin

  • G-20 Luncurkan Kerangka Kerja Pengawasan Bitcoin Cs – read more
  • Bitcoin Sudah Bisa Penuhi Syariat Islam – read more
  • Polisi Ungkap Judi Bola Pakai Bitcoin Senilai Rp 21 Triliun – read more
  • Nilai Bitcoin Bak Roller Coaster, Bisa 'Cuan' Rp 200.000/Jam! – read more
Tepuk Pantat Perempuan Pelari, Warga Siap Minta Maaf
Next Posts
Warga mengintimidasi, bahkan memukul bagian sensitif peserta lari wanita karena dianggap berpakaian tidak sopan

17,901 views

Seorang perempuan yang tengah mengikuti perlombaan olah raga dipersekusi oleh warga, hanya karena dituding tak memakai busana Islami. [Facebook]

Suara.com - Insiden pengadangan peserta lomba lari yang melintas di Dusun Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, oleh sejumlah warga, dinilai karena kesalahpahaman belaka.

Sebabnya, warga menilai panitia perlombaan tersebut kurang menyosialisasikan perihal ketentuan kompetisi serta pakaian peserta.

Karenanya, warga menolak pengadangan dan adanya insiden pemukulan pantat seorang perempuan peserta lomba itu sebagai persekusi.

Pengurus Pondok Pesantren Aswaja Nusantara, Dusun Mlangi, Muhammad Mustafid mengaku menyayangkan adanya anggapan warga Mlangi cenderung intoleran.

Padahal, seperti diberitakan Harian Jogja—jaringan Suara.com, kawasan Mlangi memiliki budaya tersendiri karena merupakan kawasan pesantren.

Menurutnya, sudah seharusnya kegiatan yang ada di kawasan tersebut menyesuaikan dengan budaya lokal.

Namun, dalam penyelenggaraan kegiatan lomba lari pada (1/5/2018), belum ada koordinasi dan sosialisasi terhadap warga. Pemberitahuan kegiatan hanya singkat kepada Plt Kepala Dusun Mlangi yang tidak berdomisili di Dusun Mlangi.

“Intinya panitia belum pernah sosialisasi ke warga tentang rute tersebut. Kami sejatinya tidak menolak jika dijadikan rute, namun harus mematuhi adat dan norma yang berlaku. Salah satunya adalah pakaian,” kata dia, Minggu (6/5/2018).

Sementara di lain sisi, kejadian pengadangan pelari acara Lets Run with Physiotherapy Be Better & Healthy yang diselenggarakan oleh Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta itu sebenarnya tidak terjadi di Dusun Mlangi.

"Kejadian itu secara administratif tidak terjadi di Mlangi, tapi di Dusun Sawahan, dusun sebelah selatan Mlangi, yang bergandengan dengan Mlangi," ujarnya.

Namun, ia mengaku sudah sudah bertemu langsung dengan pemuda yang berada di lokasi kejadian tersebut. Sejumlah pemuda pun telah menjelaskan adanya peristiwa pengadangan tersebut dan siap untuk minta maaf.

"Mereka siap minta maaf jika dianggap berlebihan karena emosi saat itu. Namun panitia mestinya juga minta maaf. Sebab saat ini masyarakat Mlangi merasa disudutkan," ujarnya.

Insiden tersebut menurutnya bukanlah persekusi. Dia menjelaskan, saat itu salah satu rombongan lari lewat utara nembus Mlangi menuju Unisa.

Sebelum masuk Mlangi lewat sebelah utara itu, sudah diingatkan oleh masyarakat agar para perempuan yang bercelana pendek ketat tidak lewat Mlangi. Sebagian ambil rute lain, sebagian nekat tetap lewat.

Ketika lewat Mlangi, ada seorang tua yang mengingatkan baik-baik, tidak digubris. Kebetulan orang tua yang sepuh ini kemudian memakai motor ke arah yang sama dengan pelari sampai memasuki wilayah Sawahan.

"Di sini dingatkan lagi sampai turun dari motor. Ketika lewat daerah Mlangi tidak terjadi apa apa. Ketika diingatkan kedua kalinya oleh orang tua tadi, malah semacam nantang dengan tidak sopan. Nah, beberapa anak muda yang ada tidak jauh dari lokasi mendatangi lokasi, akhirnya emosi, karena dari jauh terlihat seperti membentak bentak. Terjadilah itu. Ketegangan, debat, pegang baju, dan desakan-desakan," ungkapnya.

"Kealpaan panitia adalah tidak memberikan sosialisasi memadai kepada masyarakat tentang adanya rute lari yang melewati jalan kampung itu. Pihak panitia dan universitas pasti tahu Mlangi, kampung pesantren yang memiliki norma norma kearifan lokal, yang mestinya dihargai," kata Mustafid.

Sebelumnya, Ketua Milad ke-27 sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa, Ruhiyana, mengatakan permasalahan tersebut telah diselesaikan. Dia menjelaskan insiden terjadi antara peserta lari dan warga di Dusun Mlangi.

Ruhiyana menjelaskan, saat sejumlah peserta sampai di kilometer dua, terjadi peristiwa yang dialami kelompok pelari.

Beberapa warga menghentikan, mengintimidasi, bahkan memukul bagian sensitif peserta lari wanita karena dianggap berpakaian tidak sopan.

Sejumlah peserta lari laki-laki yang berusaha membela mendapatkan perlakuan yang sama.

"Tindakan itu sebagai peringatan. Warga menilai peserta memakai pakaian tidak layak, hotpants. Tapi itu tindakan pemukulan juga tidak benar," kata Ruhiyana.


Artikel asli https://bit.ly/2FTfv5O

REAKSI ANDA?

Facebook Conversations



Artikel Terkait